Senin, 24 Oktober 2016

Kuliner "Bakpao"

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki berbagai kuliner khas daerahnya masing-masing. Namun ternyata pengaruh penduduk luar Indonesia juga ikut andil dalam keanekargaman kuliner di Indonesia. Salah satu yang paling populer adalah Bakpao.


Bakpao (Hanzi: 肉包, Hokkian: bakpao, Hanyu Pinyin: 肉包 Ròu bāo) merupakan makanan tradisional Tionghoa. Dikenal sebagai bakpao di Indonesia karena diserap dari bahasa Hokkian yang dituturkan mayoritas orang Tionghoa di Indonesia. Pao itu berati "bungkusan", dan bak itu artinya daging, jadi bakpao berarti "bungkusan (berisi) daging". Bakpao dalam bahasa Hakka / Khek yaitu " Nyukppao / Yugppao " yang mempunyai arti yang sama yaitu " Daging Berbungkus " .

Pada awalnya daging yang paling lazim digunakan adalah daging babi. Namun sekarang, Bakpao dapat diisi dengan bahan lainnya seperti daging ayam, sayur-sayuran,  cokelat dan sebagainya, sesuai selera. Untuk membedakan isi Bakpao, tanpa daging (vegetarian) biasanya di atas Bakpao diberi titikan warna, demikian juga dengan isian yang lain diberi tanda warna yang berbeda-beda. Selain itu, sekarang juga terdapat Bakpao beraneka macam bentuk.




 Tidak ada keterangan yang pasti sejak kapan kue basah tradisional dari China ini masuk ke Indonesia. Harganya yang tidak terlalu mahal membuat kue ini sangat digemari oleh semua lapisan masyarakat. Kue ini dapat dijumpai diberbagai kota, terutama didaerah ramai, seperti pasar atau mall. Berikut saya tambahkan cara mudah untuk membuat Bakpao :
Bahan-bahan yang kita perlukan :
·         Baking powder :  ± ½ sendok teh.
·         Bread improver : ±½ sendok teh.
·         Fermipan : ± 1 sendok teh.
·         Garam : ± ½ sendok teh.
·         Gula halus : ± 50 gram.
·         Mentega : ± 25 gram, sebaiknya gunakan mentega netral ( putih ).
·         Susu segar : ± 125 ml.
·         Tepung Maizena : ± 50gr
·         Tepung terigu : ± 250gr, sebaiknya gunakan tepung protein rendah.

Cara pembuatan Bakpao :
  1. Pertama-tama campurkan terlebih dahulu tepung terigu, maizena, bread improver,  baking powder, mentega dan ragi instan, aduk aduk terus hingga semua bahan tercampur secara merata.
  2. Lalu tambahkan juga gula dan garam, setelah itu aduk lagi, jangan lupa tuangi dengan susu putih cair sambil diuleni hingga bahan tersebut menjadi halus dan menjadi sebuah adonan.
  3. Kemudian bagi adonan bakpao secara merata, lalu ambil 1 bagian adonan, pipihkan, lalu isi dengan coklat, bulatkan dan pipihkan bagian bawahnya dan jangan lupa beri kertas bakpao, diamkan adonan selama kurang lebih 20 menit agar mengembang, jangan lupa tutup dengan lap bersih.
  4. Setelah di diamkan selama 20 menit, kukus adonan hingga matang(sekitar10menit).
  5. Bakpao buatan anda siap untuk disajikan

Selamat mencoba. Terimakasih telah membaca artikel ini, semoga memberikan banyak manfaat. Tuhan Memberkati :)

Old Town of Djakarta

Saya akan bercerita tentang Pengalaman saya berkunjung ke salah satu tempat paling bersejarah dan tertua di Djakarta, yaitu Kota Tua. Kota Tua dulu dikenal sebagai “Oud Batavia”. Kawasan Kota Tua berada di antara perbatasan Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Ada 5 museum yang berkawasan di Kota Tua, yaitu Museum Fatahilla, Museum Wayang, Museum Seni Rupa da Keramik, Museum Bank Indonesia, dan Museum Bank Mandiri. Museum-museum tersebut memiliki koleksi benda-benda yang menjadi saksi bisu peristiwa di masa lalu.

Ini bukan pertama kalinya saya ke Kota Tua. Saya mulai perjalanan saya ketika saya keluar dari Stasiun Jakarta Kota menuju Kota Tua. Kala itu hujan yang sangat teramat besar baru saja berhenti dan membuat jalanan menjadi becek. Saya pergi bersama teman-teman sekampus saya. Kami berjalan dari Stasiun ke penyeberangan bawah tanah, bawah sana terdapat banyak penjual yang menjual berbagai barang yang menjadi ikon Kota Tua atau Djakarta. Akhirnya kami sampai dipintu keluar yang dekat dengan Museum Mandiri, lalu kami menyebrang di Zebra Cross dan sampai di samping Museum Fatahilla.


Di Kota Tua kami berkeliling dan melihat banyak penjual dan orang-orang yang berprofesi sebagai Noni Belanda, Patung Moh. Hatta, dan orang yang seolah-olah duduk melayang. Waktu itu jam menunjukkan pukul 16.47 WIB, dan hujan rintik-rintik pun mulai turun kembali. Sehingga saya dan teman-teman tak dapat lebih lama lagi bermain-main di Old Town of Djkarta. Tapi kami tidak ketinggalan untuk mengabadikan momen ini dengan berfoto selfie didepan Museum Fatahilla.


(Screenshoot Post Media Sosial “Path”(Akun milik Pribadi))

Setelah itu, kami bergegas untuk pulang, kami melewati jalan yang sama menuju Stasiun Jakarta Kota. Namun, kali ini kami menyempatkan waktu untuk mengisi perut yang bernyanyi di tempat makan bawah tanah, kami semua makan bakso dan menjadi senang karena kenyang :) Kami akhirnya pulang dan mengalami perpisahan.



Sungguh menyenangkan berada di Kota Tua merasakan Jakarta Tempo Doeloe bernuansa gedung-gedung vintage ditengah keramaian gedung-gedung baru berkonsep modern. Terimakasih telah membaca artikel ini, semoga memberikan banyak manfaat. Tuhan Memberkati :)

Pengalaman Menaiki Kereta Commuter Line


Saya akan menceritakan Perjalanan Seru saya bersama teman-teman saya menaiki Kereta Commuter Line. Tepatnya pada hari Kamis, 13 Oktober 2016 saya bersama Galih, Shinta, Nanda, Brigitta, Annisa, Shania, Russel, dan Riney melakukan perjalan menggunakan Kereta Api Commuter Jabodetabek menuju ke Kota Tua. ( KRL Commuter Line, dulu dikenal sebagai KRL Jabodetabek )


Kami semua berkumpul di Trisakti School of Management, kemudian pada pukul 14.00 WIB kami berangkat menuju Stasiun Grogol menggunakan angkutan umum B11, yang bertarif Rp. 2.500,- ketika itu cuaca mulai mendung tetapi kami tetap bahagia didalam perjalanan, kami bercanda didalam angkutan, serasa menaiki angkutan pribadi, sehingga perjalanan menuju Stasiun Grogol tidak terasa.

(Screenshoot Post Media Sosial “Path”(Akun milik Pribadi))

Sesampainya kami di Stasiun Grogol kami langsung membeli tiket masuk seharga Rp.13.000,- Ternayata setelah kami masuk dan melihat jam keberangkatan, kereta yang ingin kami naiki sampai di Stasiun Grogol setengah jam lagi. Akhirnya kami berfoto-foto untuk menunggu kereta. Berikut foto-foto kami yang sangat buanyak :)

 (Screenshoot Post Media Sosial “Path”(Akun milik Pribadi))

Tidak terasa, kereta kami sudah sampai. Kami pun segera menaiki kereta yang sangat penuh sehingga kami tidak mendapat tempat duduk, dan lagi-lagi kami berfoto didalam kereta yang sedang melaju, dalam keadaan apapun, termasuk ketika sedang berdiri dan tanpa menghiraukan banyaknya penumpang yang memperhatikan kami.
Dalam hitungan menit kami telah sampai di Stasiun Duri, tempat kami transit menuju Stasiun Manggarai. Di Stasiun Duri kami kami menunggu kereta cukup lama, kira-kira hampir 1 jam kami berdiri untuk mendapatkan kereta ke Stasiun Manggarai. Ketika kami menunggu, hujan yang sangat teramat deras turun, kami mulai khawatir, bagaimana jika kami sampai di Kota Tua dalam keadaan hujan besar? Apalagi hari sudah mulai Sore.

(Screenshoot Post Media Sosial “Path”(Akun milik Pribadi))

Di Stasiun Manggarai kami berlari sambil kehujanan menuju Jalur Kereta yang segera berangkat ke Stasiun Jakarta Kota. Kebetulan, saat itu Brigitta, salah satu teman saya sedang sakit kakinya, sehingga Galih membantu Brigita dan kami pun menunggu sambil memberitahukan bahwa jangan sampai mereka ketinggalan kereta. Ternyata kereta yang kami naiki kali ini sepi sehingga kami mendapat tempat duduk, lagi-lagi kami berfoto ria :)
(Screenshoot Post Media Sosial “Path”(Akun milik Pribadi))
Hingga akhirnya, kami sampai di Stasiun Jakarta Kota. Tujuan kami tercapai, dan kami sangat bahagia, bahkan langit pun menjadi cerah. Hemm J Puji Tuhan yah doa kami dijawab, hujan yang sangat teramat besar telah berhenti. Kami tak perlu khawatir ketika sampai di Stasiun Jakarta Kota. Di Stasiun Jakarta Kota, teman-teman saya yang beragama Islam beribadah terlebih dahulu, saya dan teman-teman saya yang Non Muslim menunggu didepan Mushola Stasiun. Setelah semua selesai beribadah, kami ke Indomaret didalam Stasiun untuk membeli Es Krim dan Minuman, melepas lelah dan menceriakan hati. Lalu kami keluar dari Stasiun dan menukarkan Kartu Jaminan senilai Rp. 10.000,- Jadi kami hanya membayar Rp. 3.000,-

 (Screenshoot Post Media Sosial “Path”(Akun milik Pribadi))


Sangat murah meriah dan luar biasa perjalanan kami, kami singgah di 4 Stasiun dalam 1 hari. Mendapat banyak pengalaman tak ternilai harganya, seperti solidaritas, kepedulian terhadap penumpang lain, dan kebersamaan.